Beranda > Aqidah > Asal Usul ASWAJA

Asal Usul ASWAJA


Apa itu Aswaja? Sebagian kita akan bingung mendengar istilah ini. Namun, bagi mereka yang akrab dengan dunia pergerakan Islam tradisional, istilah ini pun tentu sudah cukup akrab didengar, bahkan telah dijadikan sebagai wahana identifikasi diri.

Aswaja merupakan singkatan akronim dari kata Ahlusunnah Waljamaah, yang oleh sebagian orang juga diringkas menjadi Sunni. Dalam pengertian praktisnya, Aswaja adalah golongan terbesar (al-sawad al-a’zham) dari umat Islam yang bersifat sinambung dari zaman ke zaman, yang memahami, mengamalkan, mempertahankan, dan mendakwahkan ajaran agama berdasarkan haluan keteladanan yang telah digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaih wa alihi wa sallam dan para sahabat radliyallahu ‘anhum ajma’in.

Apa yang dimaksud haluan keteladanan ini memang masih abstrak (tidak tampak) sehingga menjadikan setiap golongan atau aliran merasa berhak menyatakan diri sebagai Aswaja. Cuma, sebagian ada yang mengidentifikasikan diri kepada Aswaja itu secara formal, dalam arti secara nama ingin disebut Ahlusunnah waljamaah, Sunni, atau Aswaja, dan sebagian lain hanya ingin mengidentifikasikan diri mereka secara substansial saja, dalam arti bahwa meskipun mereka tidak menamakan diri sebagai orang Sunni, Aswaja, atau Ahlusunnah, namun mereka tetap merujuk kepada hadis tentang firqah dan mengklaim merekalah golongan yang selamat itu. Di sinilah menurut beberapa penulis posisi kaum Syi’ah yang meskipun secara formal tidak mau disebut Ahlusunnah, namun secara substansial justru sangat mengakuinya.

Bagaimanapun saling silang-sengketa tentang golongan atau aliran mana yang betul-betul Ahlusunnah, namun jika ditinjau dari segi perkembangan dan perbandingannya dengan berbagai aliran yang pernah muncul dalam sejarah umat Islam sejak masa awal, dapat dipahami secara umum bahwa nilai yang menjadi dasar atau karakter Ahlusunnah Waljamaah (Aswaja) setidaknya terdiri atas nilai i’tidal (keadilan/istiqamah), tawasuth, (penengah/moderat), tawazun (seimbang/proporsional), dan tasamuh (lapang dada/toleran). Di mana dapatnya? Sejarah yang menjadi saksi, karena jika mau memfokuskan kajian kepada sejarah Islam awal, pasca wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam sesungguhnya telah jelas di mana posisi para sahabat. Riwayat-riwayat yang menceritakan kronologi demi kronologi sampai peristiwa di daumah al-jandal pada ‘am al-jamaah sesungguhnya bisa dikumpulkan dan disusun secara lebih sistematis sehingga melahirkan rekonstruksi sejarah Aswaja pada zaman yang paling awal.

Oleh karena itu, sungguhpun keempat nilai tersebut di atas tidak mencerminkan Aswaja secara mutlak, tetapi paling tidak ia telah terbukti memainkan peran penting dalam membingkai berbagai persoalan besar yang melibatkan agama, sehingga menjadi jelas perbedaannya dari aliran-aliran lainnya. Lihat misalnya khawarij, saba’iyyah, dan sebagainya yang sudah merupakan aliran akidah sehingga pantas disebut firqah, karena memang menyelisihi arus umum keberagamaan para sahabat secara akidah.

Kemudian daripada itu, tinjauan secara kebahasaan menunjukkan bahwa keempat nilai dasar itu, yakni istilah i’tidal, tawasuth, dan tawazun sebenarnya dapat dirujuk kepada akar istilah sunnah yang menjadi satu identitas utama Aswaja, di samping istilah tasamuh yang merujuk kepada akar istilah jama’ah. Keempat istilah inilah yang secara tidak langsung membentuk satu bangunan identitas, yakni Ahlusunnah Waljamaah.

Di samping itu, istilah jamaah juga diungkapkan dalam hadis lain sebagai al-sawad al-a’zham, yaitu mainstream atau arus umum sistem keberagamaan umat Islam. Inilah makna yang lebih tepat bagi Aswaja. Sejak zaman sahabat terdapat arus umum keberagamaan mereka yang diikuti oleh para tabiin, hatta dalam keadaan perang saudara sekalipun. Buktinya, ketika perang Jamal dan perang Shiffin, umat Islam memang terpecah kepada dua golongan yang saling berperang, meskipun akhirnya setelah peristiwa di daumah al-Jandal kembali bersatu. Kedua gololongan ini masih dalam arus umum, karena seluruh sahabat berada di salah satu antara dua golongan itu, meskipun faktanya ada sebagian sahabat yang secara fisik tidak melibatkan diri dalam perang. Adapun khawarij yang menyatakan keluar dari kedua golongan itu? Sejarah membuktikan tidak ada seorang sahabat pun yang pernah menerima dan mengakui keberadaan Khawarij, apalagi sampai ikut bergabung dengan mereka.

Demikian sekadar pengantar untuk pendalaman makna Aswaja secara lebih terarah. Wallahul a’lam.

Kategori:Aqidah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: