Beranda > Aqidah > Apakah Itu Bid’ah Dholalah

Apakah Itu Bid’ah Dholalah


Ada beberapa pendekatan yang dilakukan oleh para ulama dalam mendefinisikan bid’ah. Perbedaan cara pendekatan para ulama disebabkan, apakah kata bid’ah selalu dikonotasikan dengan kesesatan, atau tergantung dari tercakup dan tidaknya dalam ajaran Islam. Hal ini disebabkan arti bid’ah secara bahasa adalah : sesuatu yang asing, tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. Sehingga inti pengertian bid’ah yang sesat secara sederhana adalah: segala bentuk perbuatan atau keyakinan yang bukan bagian dari ajaran Islam, dikesankan seolah-olah bagian dari ajaran Islam, seperti membaca ayat-ayat al-Qur’an atau shalawat disertai alat-alat musik yang diharamkan, keyakinan/faham kaum Mu’tazilah, Qodariyah, Syi’ah, termasuk pula paham-paham Liberal yang marak akhir-akhir ini, dan lain-lain. Imam ‘Izzuddin bin ‘Abdus Salam sebagaimana disebutkan dalam kitab tuhfatul akhwadzi juz 7 hal 34 menyatakan: “Apabila pengertian bid’ah ditinjau dari segi bahasa, maka terbagi menjadi lima hukum :
Haram, seperti keyakinan kaum Qodariyah dan Mu’tazilah.
Makruh, seperti membuat hiasan-hiasan dalam masjid.
Wajib, seperti belajar ilmu gramatikal bahasa arab (nahwu).
Sunnah, seperti membangun pesantren atau madrasah.
Mubah, seperti jabat tangan setelah shalat.

Alhasil, menurut Imam ‘Izzuddin, “Segala kegiatan keagamaan yang tidak ditemukan pada zaman Rasulullah SAW, hukumnya bergantung pada tercakupnya dalam salah satu kaidah hukum Islam, haram, makruh, wajib, sunnah, atau mubah. Sebagai contoh, belajar ilmu bahwu untuk menunjang dalam belajar ilmu syariat yang wajib, maka hukum belajar ilmu nahwu menjadi wajib.”.[1]

Penjelasan tentang bid’ah bisa kita ketahui dari dalil-dalil berikut :

Hadits riwayat sayyidatina A’isyah :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ. رواه مسلم

“Dari ‘Aisyah RA. Ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tiada perintah kami atasnya, maka amal itu ditolak” HR.Muslim.

Hadits ini sering dijadikan dalil untuk melarang semua bentuk perbuatan yang tidak pernah dilaksanakan pada masa Nabi SAW. Padahal maksud yang sebenarnya bukanlah seperti itu. Para ulama menyatakan bahwa hadits ini sebagai larangan dalam membuat-buat hukum baru yang tidak pernah dijelaskan dalam al-Qur’an ataupun Hadits, baik secara eksplisit (jelas) atau implisit (isyarat), kemudian diyakini sebagai suatu ibadah murni kepada Allah SWT sebagai bagian dari ajaran agama. Oleh karena itu, ulama membuat beberapa kriteria dalam permasalahan bid’ah ini, yaitu :

Pertama, jika perbuatan itu memiliki dasar dalil-dalil syar’i yang kuat, baik yang parsial (juz’i) atau umum, maka bukan tergolong bid’ah. Namun jika tidak ada dalil yang dapat dibuat sandaran, maka itulah bid’ah yang dilarang.

Kedua, memperhatikan pada ajaran ulama salaf (ulama pada abad l, ll dan lll H.). Apabila sudah diajarkan oleh mereka, atau memiliki landasan yang kuat dari ajaran kaidah yang mereka buat, maka perbuatan itu bukan tergolong bid’ah.

Ketiga, dengan jalan qiyas. Yakni, mengukur perbuatan tersebut dengan beberapa amaliyah yang telah ada hukumnya dari nash al-Qur’an dan Hadits. Apabila identik dengan perbuatan haram, maka perbuatan baru itu tergolong bid’ah muharromah. Apabila memiliki kemiripan dengan yang wajib, maka perbuatan baru itu tergolong wajib. Dan begitu seterusnya.[2]

2. Hadits riwayat Ibn Mas’ud :

عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ, أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَلاَ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ شَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. رواه ابن ماجه

“Dari ‘Abdullah bin Mas’ud. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “ Ingatlah, berhati-hatilah kalian, jangan sampai membuat hal-hal baru. Karena perkara yang paling jelek adalah membuat hal baru . dan setiap perbuatan yang baru itu adalah bid’ah. Dan semua bid’ah itu sesat.” HR. Ibnu Majah.

Hadits inipun sering dijadikan dasar dalam memvonis bid’ah segala perkara baru yang tidak ada pada zaman Rasulullah SAW, para sahabat atau tabi’in dengan pertimbangan bahwa hadits ini menggunakan kalimat kullu (semua), yang secara tekstual seolah-olah diartikan semuanya atau seluruhnya.

Namun, dalam menanggapi makna hadits ini, khususnya pada kalimat وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, terdapat perbedaan pandangan pandangan di kalangan ulama’.

Pertama, ulama’ memandang hadits ini adalah kalimat umum namun dikhususkan hanya pada sebagian saja (عام مخصوص البعض ), sehingga makna dari hadits ini adalah “bid’ah yang buruk itu sesat” . Hal ini didasarkan pada kalimat kullu, karena pada hakikatnya tidak semua kullu berarti seluruh atau semua, adakalanya berarti kebanyakan (sebagian besar). Sebagaimana contoh-contoh berikut :

Al-Qu’an surat Al-Anbiya’ ; 30 :
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” QS. Al-Anbiya’:30.

Meskipun ayat ini menggunakan kalimat kullu, namun tidak berarti semua makhluk hidup diciptakan dari air. Sebagaimana disebutkan dalam ayat al-Qur’an berikut ini:

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

“Dan Allah SWT menciptakan Jin dari percikan api yang menyala”. QS. Ar-Rahman:15.

Begitu juga para malaikat, tidaklah Allah ciptakan dari air.

Hadits riwayat Imam Ahmad :
عَنِ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ

Dari al-Asyari berkata: “ Rasulullah SAW bersabda: “ setiap mata berzina” (musnad Imam Ahmad)

Sekalipun hadits di atas menggunakan kata kullu, namun bukan bermakna keseluruhan/semua, akan tetapi bermakna sebagian, yaitu mata yang melihat kepada ajnabiyah.

Kedua, ulama’ menetapkan sifat umum dalam kalimat kullu, namun mengarahkan pengertian bid’ah secara syar’iyah yaitu perkara baru yang tidak didapatkan di masa Rasulullah SAW, dan tidak ada sandarannya sama sekali dalam usul hukum syariat. Telah kita ketahui bahwa perkara yang bertentangan dengan syariat baik secara umum atau isi yang terkandung di dalamnya, maka haram dan sesat. Dengan demikian, makna hadits di atas adalah setiap perkara baru yang bertentangan dengan syariat adalah sesat, bukan berarti semua perkara baru adalah sesat walaupun tidak bertentangan dengan syai’at.

Oleh karena itu, jelas sekali bahwa bukan semua yang tidak dilakukan di zaman Nabi adalah sesat. Terbukti, para sahabat juga melaksanakan atau mengadakan perbuatan yang tidak ada pada masa Rasulullah SAW. Misalnya, usaha menghimpun dan membukukan al-Qur’an, menyatukan jama’ah tarawih di masjid, adzan Jum’ah dua kali dan lain-lain. Sehingga, apabila kalimat kullu di atas diartikan keseluruhan, yang berarti semua hal-hal yang baru tersebut sesat dan dosa. Berarti para sahabat telah melakukan kesesatan dan perbuatan dosa secara kolektif (bersama). Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang pilihan yang tidak diragukan lagi keimanan dan ketaqwaannya. Bahkan diantara mereka sudah dijamin sebagai penghuni surga. Oleh karena itu, sungguh tidak dapat diterima akal, kalau para sahabat Nabi SAW yang begitu agung dan begitu luas pengetahuannya tentang al-Qur’an dan Hadits tidak mengetahuinya, apalagi tidak mengindahkan larangan Rasulullah SAW.[3]

[1] Risalatu Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah hal. 6-8.
[2] Risalatu Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah hal.6-7.

[3] Mawsu’ah Yusufiyyah juz l1 hal.488.

Kategori:Aqidah Tag:,
  1. Anonim
    28 Juni 2012 pukul 04:25

    Saudaraku yang jujur, baik hati, tidak sombong, dan tentunya suka menabung.
    Penjelasan potongan kalimat ”kulla bid’atin dholalah” (setiap bid’ah itu sesat) dapat dilihat pada potongan kalimat hadits selanjutnya yaitu ”wa kulla dholalatin fin nar” (dan setiap kesesatan tempatnya di neraka). Menurut penafsiran saudara bahwa kata kulla pada ”kulla bid’atin dholalah” itu berarti tidak semua/setiap, tetapi ada pengecualian-pengecualian, jadi ada bid’ah yang tidak sesat atau ada bid’ah hasanah. Maka saya mencoba mengikuti alur pemikiran saudara untuk diterapkan juga pada potongan kalimat hadits selanjutnya ”wa kulla dholalatin fin nar”, maka ada kesesatan yang tidak masuk neraka alias ada kesesatan yang masuk surga. Saudara ternyata punya selera humor juga ya.

    • ahmad229
      28 Juni 2012 pukul 16:43

      btul gan,saking humornya sya,bnyak orang2 gila yg mentertawakan saya..

  2. 24 Juli 2012 pukul 14:28

    Kebenaran hanya milik Allah SWT.
    Kali ini saya mencontohkan masalah kenapa masih ada yang menganggap haram atau apalah itu pada zaman sekarang penggunaan sabun dalam mencuci pakaian. Sebagian masih ada yang melarang menggunakan sabun untuk mencuci pakaiannya walaupun pakaian untuk Sholat dan kesehariannya. Mereka masih memegang kebiasaan jaman Nabi yang mencici pakaiannya tanpa menggunakan sabun hanya menggunakan air saja.
    Apakah salah dan haram mencici menggunakan sabun, sedangkan sabun itu tidak terbuat dari bahan yang haram? Dan muslim yang melaksanakan sesuatu perkara baru yaitu mencuci menggunakan sabun sekarang ini adalah sesuatu yang salah besar dalam agama?
    Apakah salah orang yang berobat ke dokter sekarang ini, sedangkan zaman Nabi yang namanya dokter itu tidak ada? Apakah salah orang islam berobat dengan dokter yang bukan beragama islam pada zaman sekarang?
    Apakah salah orang islam sholat menggunakan baju kurung atau baju koko zaman sekarang, sedangkan zaman Nabi dahulu mereka sholat tidak memakai baju kurung dan baju koko karena bukan pakaian orang Arab?
    Apakah salah yang dilakukan zaman sahabat Nabi membuat jilidkan Al-Quran yang sebelumnya tidak pernah dilakukan zaman Nabi?
    Apakah salah membaca doa Qunut dalam sholat subuh yang tidak pernah dilakukan zaman Nabi, tetapin dilakukan zaman sahabat Nabi?
    Saya rasa tidak ada hal yang menjelaskan dan mentafsirkan semua perkara-perkara baru yang tidak pernah dilakukan zaman nabi pada zaman sekarang selama itu tidak menyalahi perintah dan larangan islam maka boleh-boleh saja.
    Sekarang saya bertanya, apakah ada wasiat nabi sepeninggalannya untuk sahabat-sahabat kepercayaannya dan umatnya bahwa melarang melakukan perkara-perkara baru, walaupun perkara itu baru dan baik tetapi tidak pernah beliau lakukan selama hidupnya secara tegas?
    Beliau mungkin pernah sempat khawatir sepeninggalannya akan terpecah islam dan sudah tidak bisa dipantaunya lagi. Akan tetapi, beliau senang dapat mengetahui bahwa walaupun islam akan terpecah beberapa aliran-aliran, selama umatnya masih memegang Al-Quran dan hadist maka selamatlah umatnya.
    Para sahabat Nabi pernah melaksanakan perkara baru yang tidak pernah dilaksanakan semasa Nabi hidup. Mereka adalah orang yang lebih paham penguasaan agamanya langsung dari Nabi dan tidak diragukan lagi oleh seluruh umat muslim dunia. Para sahabat jelas berpikir dan mencari kebenaran dari AL-Quran dan hadist dengan pentafsiran yang jelas isinya sebelum melaksanakan perkara baru demi memperluas ajaran islam , mempertahankan keyakinan agamanya dan tetap memegang wasiat Nabi dalam melanjutkan agama yang sudah dibawa oleh Nabinya.
    Ini sama saja apa yang sudah dilakukan para ahli agama selanjutnya dalam penyebaran islam seluruh dunia. Mereka termasuk orang yang lebih pemahaman agamanya dan imannya dan paling berjasa dan mendapat pahala dengan membawa ajaran kebenaran dan kedamaian yaitu islam. Mungkin dapat dipahami, setiap tempat memiliki perbedaan masyarakatnya dalam penerimaan agama baru yaitu islam. Maka dari itu para sahabat dan ahli agama memiliki cara masing-masing dalam pendekatan penyebaran islam, ada yang mudah menerima islam dan ada yang sulit untuk menerima islam. Karena dari itu dipakailah cara tertentu untuk mengambil hati orang yang mau menerima islam adalah agama yang benar. Digunakanlah pendekatan yang tidak pernah dilakukan pada zaman Nabi dahulu, seperti memasukkan kebiasaan-kebiasaan lama atau budaya masyarakat tersebut dengan penyebaran islam. Akan tetapi kebiasaan atau budaya tersebut sudah dirobah sesuai islam, bukan lagi hal yang bertentangan dengan islam itu sendiri. Sudah disesuaikan dengan pemahaman dalam islam dan jelas ada penjelasan yang masuk akal dalam islam itu juga. Bukan hal yang tidak bisa dipertanggung jawabkan jika ada yang mempertanyakannya.
    Kalau kita kurang memahami isi dalam islam itu sendiri dan hanya mendengar atau membaca sedikit untuk mencari jawaban yang seharusnya bisa kita dapat dari berbagai sumber yang masih sesama islam untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang mungkinharus dilakukan dialog atau majelis agama untuk membenar salahnya sesuatu hal yang tidak pernah dilakukan Nabi. Disini kita bukan mau langsung memvonis bahwa aliran-aliran yang masih memegang Al-Quran dan hadist tetapi berbeda persepsi boleh atau tidak perkara baru yang tidak pernah dilakukan zaman Nabi itu dilakukan zaman sepeninggalan Nabi yang tidak ada kejelasan langsung dari nabi melarangnya atau membolehkannya? Padahal benar dan salah semua hanya allah SWT yang tahu dan selama aliran-aliran itu tidak sesat melakukan sirik dengan melanggar larangan dan menjauhi perintah yang seharusnya maka kita tidak bisa lansung menvonis haram salah pada hal yang belum secara kuat bisa kita nyatakan kesalahannya?
    Contoh aja khamar dan yang berahkohol yang bisa memabukan dari tidak haram menjadi haram hukumnya. Ini bisa berarti hal yang sebelumnya masih tidak haram hukumnya bisa berubah menjadi haram hukumnya. Mungkin disebabkan hal-hal tertentu yang merubah yang tidak haram menjadi haram. Contoh lain babi di hutan bisa menjadi halal dimakan orang islam disebabkan hal tertentu, apabila sudah benar-benar tidak ada makanan lain lagi di hutan dan kita harus bertahan hidup di hutan maka babi yang lewat yang mengharuskan kita untuk berburunya dan memakannya demi bertahan hidup hari berikutnya menjadikan babi itu halal untuk masa itu saja bagi bertahan hidup tanpa ada apa-apa lagi yang di hutan bisa dimakan. Itukan sesuatu yang bisa saja terjadi di hutan, akan tetapi kita harus berusaha bertahan hidup dengan mencari makanan lain yang halal dahulu di hutan.
    Nabi Muhammad adalah orang Arab Mekkah yang berbahasa arab. Jelas beliau berbahasa Arab dalam sholat dan berdoa serta kesehariannya berbahasa Arab. Akan tetapi di belahan bumi sekarang ini orang ada berdoa menggunakan bahasa bangsanya sendiri dan kenapa tidak dianggap boleh bukan haram pada hal Nabi berdoa menggunakan bahasa Arab? Kenapa tidak semua menggunakan bahasa Arab dalam berdoa kalau itu yang dipercayai harus mengikuti apa yang dilaksananakn Nabi? Sedangkan tetap dianggap boleh saja berdoa menggunakan bahasa bangsanya dalam berdoa meminta kepada Allah karena tidak ada larangan tegas sebelumnya dari Nabi yang mewajibkan berdoa harus menggunakan bahasa Arab. Disini saya mengambil kesimpulan bahwa berdoa menggunakan bahasa selain Arab dibolehkan, akan tetapi dalam sholat menghadap Allah tetaplah menggunakan bahasa Nabi yaitu arab yaitu Al-Quran yang digunakan Nabi Muhammad dalm sholat. Bahasa Al-Quran jelas adalah bahasa yang datang dari Allah SWT melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad.
    Misalnya bahasa Al-quran itu bahasa Allah SWT adalah bahasa Jawa maka Nabi adalah orang Jawa dan seluruh dunia menggunakan bahasa Jawa dalam membaca Al-Quran dan Sholat. Tetapi ini adalah hal yang tidak terjadi karena Allah menyampaikan firmannya dalam Al-Quran berbahasa Arab Al-Quran maka bahasa Al-Quran adalah bahasa Allah SWT, sedangkan bahasa jawa dan lainnya merupakan bahasa manusia. Jadi kita dalam islam diwajibkan membaca Al-Quran dan sholat menggunakan bahasa Arab Al-Quran. Dalam memahami isi Al-Quran dibolehkan mengartikannya ke bahasa masing-masing agar mudah memahaminya isi Al-Quran untuk selanjutnya diamalkan. Akan tetapi bacalah Al-Quran itu tetap menggunakan bahasa Al-Quran yang diajarkan AllahSWT melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.
    Mungkin zaman Nabi dan Nabi kita sendiri adalah orang Arab maka bacaan Al-Quran dan pengertian Al-Qurannya menggunakan bahasa arab, sehingga tidak pernah menggunakan bahasa lain. Tetapi Nabi tidak pernah melarang umatnya setelah membaca Al-Quran seperti biasa kemudian mengartiakan Al-Quran menggunakan bahasa lain untuk mempermudah memahami arti Al-Quran itu sendiri. Bahkan Nabi tidak pernah melarang umatnya berdoa menggunakan bahasa selain yang digunakan Nabi. Berarti, selagi tidak melanggar ajaran islam yaitu Al-Quran dan hadist walaupun tidak ada ketegasan dari Nabi menyatakan vonis perkara yang tidak pernah dilakukannya adalah salah dalam segi islam.
    Contoh lain, apakah salah kita islam sekarang meminum minuman seperti bandrek, jamu, kopi, teh, air kaleng yang berlebel halal, dan masih banyak lagi minuman dan makanan yang halal tetapi tidak pernah diminum oleh Nabi, semua itu haruskah dilarang atau dijauhi umat islam zaman sekarang ini?
    Jadi apa yang selalu dikatakan orang yang menyakini perkara baru yang tidak pernah dilakukan Nabi Mauhammad dengan kata bid’ah adalah haram atau salah dari islam maka janganlah kita langsung memvonisnya kecuali emang jelas dan tegas ada larangan yang sudah terdapat dalam Al-Quran dan hadist sahih.
    Bagi mereka yang berpegang erat dan mencontohi semua yang dilakukan Nabi tanpa melebihi dan menguranginya maka kita tidak boleh juga mengatakan bahwa mereka terlalu jadul tidak mengiikuti zaman. Mereka yang berpikir begitu adalah orang yang harus dihormati dan dihargai apa yang menjadi sudah diyakininya untuk seutuhnya mengikuti Nabi. Setiap aliran percaya dan menyakini pasti kebenaran mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad adalah hal yang benar dan tidak bisa dipungkiri kebenarannya. Akan tetapi, apa yang dilakukan para sahabat nabi dan para ahli agama islam sepeninggalan Nabi adalah hal yang masih mengikuti Nabi dan ada hal perkara baru yang tidak dilakukan oleh Nabi menjadi sesuatu yang pasti memiliki pentafsiran dalan agama islam yang pasti ada jawabannya apabila suatu saat para sahabat Nabi dan para ahli agama sepeninggalan nabi mendapatkan pertanyaan salah benarnya mengenai sesuatu perkara yang tidak pernah dilakukan Nabi tetapi dilakukan juga untuk menyebarkan islam dan mempertahankan agama Nabi Muhammad dengan tetap memegang Al-Quran dan hadist Nabi.Para sahabat Nabi dan para ahli agama jelas tidak sendiri menentukan perkara baru yang langsung memaksa tanpa bertanya dengan para sahabat dan ahli agama lainnya. Kenapa pada saat melakukan perkara baru tersebut tidak langsung ada pertentangan sehingga kalaulah itu skhirnya salah maka pasa saat itu juga bisa langsung dinyatakan salah. Kenapa para sahabat dan ahli agama islam lainnya mengetahui dan sama sekali tidak melarangnya walaupun sudah diadakan majelis ahli agama mencari benar atau tidak perkara tersebut salah atau tidak dalam islam?
    Dalam menjalankan haji kita ada mencium batu hajar aswad sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad dalam hajinya. Batu tersebut bukanlah untuk dianggap memiliki kekuatan atau bukanlah hal yang Nabi Muhammad ajarkan agar umatnya melakukan sirik dengamn berdoa menyembah batu, karena Nabi Muhammad adalah Nabi yang sesungguhnya hanya mengajarkan tuhan itu satu yaitu Allah SWT dan melarang umatnya melakukan sirik. Mencium batu hajar Aswad berarti sesuatu yang tidak salah karena dilakukan oleh Nabi, tetapi sekarang mungkin orang secara sengaja atau mungkin tidak sengaja telah melakukan pendekatan sirik dengan menganggap batu hajar aswad adalah batu yang bisa membuat mereka mendapat berkah dan memilki kekuatan gaib, pada hal nabi tidak bertujuan mengajarkan untuk melakukan sirik dengan batu Hajar Aswad tersebut. Akan tetapi mungkin orang tersebut yang salah pembawaannya.
    Jadi, Apakah juga salah dalam umroh atau haji, kita menziarahi makan Nabi dan berdoa di makam nabi?
    Kebenaran hanya milik Allah SWT. Apabila ada kesalahan dalam penulisan ini mohon maaf dan harap dicari kebenarnya dengan penjelasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Apabila tulisan ini dikemudian hari mendatangkan kesalahan diharapkan dibetulkan penulisan isinya yang benar atau bisa dihapus. Saya hanya memiliki sedikit pemahaman islam, cuma dasar islam yang dipahami. Insya Allah, tulisan ini tetap berpegang tiada tuhan selain Allah SWT dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Amin

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: